SD, tahun 1999. "Belum Mengenal"
Sekolah mereka bersebelahan. Satu halaman. Satu nama jalan, hanya beda nomor yg selisih satu angka. Satu tingkat yang sama. Sama-sama memanggul tas berat setiap hari. Pulang dengan jalan kaki.
Tak ada yang istimewa, karena mereka belum saling kenal. Sama sekali belum kenal. Tak ada yang tau nama masing-masing, alamat rumah, bahkan apa hobi mereka apa.
Kadang, setiap jumat pagi mereka olahraga bersama, berdesakan di kantin milik SD Prisa yang jajanannya lebih lengkap, berjalan beriringan sewaktu pulang sekolah. Namun sekali lagi, mereka belumlah saling kenal.
SMP, tahun 2002. "Hanya Berpapasan dan Saling Lirik"
Sekolah mereka tak bersebelahan lagi, tak satu halaman, dan tak satu jalan lagi. Namun mereka masih satu tingkatan yang sama, lebih dari yang lalu. Masih memanggul tas berat dan berjalan kaki tiap hari.
Anehnya, tiap pulang sekolah mereka saling berpapasan kembali dan saling lirik. Mata mereka seakan bertanya-tanya, "Hey, aku pernah melihatmu. Dimana?" Namun pertanyaan itu mereka telan lagi. Tak ada keberanian untuk mencari jawabannya.
Sekolah mereka bersebelahan. Satu halaman. Satu nama jalan, hanya beda nomor yg selisih satu angka. Satu tingkat yang sama. Sama-sama memanggul tas berat setiap hari. Pulang dengan jalan kaki.
Tak ada yang istimewa, karena mereka belum saling kenal. Sama sekali belum kenal. Tak ada yang tau nama masing-masing, alamat rumah, bahkan apa hobi mereka apa.
Kadang, setiap jumat pagi mereka olahraga bersama, berdesakan di kantin milik SD Prisa yang jajanannya lebih lengkap, berjalan beriringan sewaktu pulang sekolah. Namun sekali lagi, mereka belumlah saling kenal.
SMP, tahun 2002. "Hanya Berpapasan dan Saling Lirik"
Sekolah mereka tak bersebelahan lagi, tak satu halaman, dan tak satu jalan lagi. Namun mereka masih satu tingkatan yang sama, lebih dari yang lalu. Masih memanggul tas berat dan berjalan kaki tiap hari.
Anehnya, tiap pulang sekolah mereka saling berpapasan kembali dan saling lirik. Mata mereka seakan bertanya-tanya, "Hey, aku pernah melihatmu. Dimana?" Namun pertanyaan itu mereka telan lagi. Tak ada keberanian untuk mencari jawabannya.


